Obat Golongan Kortikosteroid Topikal

Content:
  • Efek Samping Kortikosteroid Topikal
  • 3-frozen-shoulder
  • Future ui development tutorials
  • Animasi Mengenai Hipertensi

    Efek Samping Kortikosteroid Topikal

    obat golongan kortikosteroid topikal Hernia Nucleus Puposus Cervicalis. Hernia Nucleus Pulposus Lumbalis. Kompresi Nervus Ulnaris di Pergelangan Tangan. Fracture Collum Femoris Dewasa. Rekonstruksi Meniscus dengan jahitan khusus. Rekonstruksi Cartilago yang rusak dengan Stem Sel.

    3-frozen-shoulder

    obat golongan kortikosteroid topikal

    Hernia Nucleus Puposus Cervicalis. Hernia Nucleus Pulposus Lumbalis. Kompresi Nervus Ulnaris di Pergelangan Tangan. Fracture Collum Femoris Dewasa. Rekonstruksi Meniscus dengan jahitan khusus. Rekonstruksi Cartilago yang rusak dengan Stem Sel. Fracture Supracondylair Humeri Pada Anak. Pengaruh Terapi Oksigen Hiperbarik di bidang Orthopedi Penyebab dari frozen shoulder belum diketahui.

    Proses yang terjadi meliputi penebalan dan kontraktur dari capsula yang menyelimuti sendi bahu. Gangguan ini tidak berkaitan dengan adanya cedera atau penyebab lain yang dapat dilihat.

    Beberapa faktor resiko dari frozen shoulder termasuk:. Beberapa kondisi abnormal dari endokrin, seperti gangguan tiroid baik hipo maupun hipertiroid juga dapat menyebabkan gangguan ini 32, Untuk mencegahnya maka bahu harus sedini mungkin digerakkan setelah mengalami cedera atau pembedahan. Penyebab lainnya yang pernah dilaporkan adalah penyakit Parkinson, penyakit jantung, paru, dan stroke. Pada kasus stroke jelas bahwa kekakuan bahu dapat disebabkan spastisitas otot di regio bahu.

    Tangan nondominan yang biasanya terkena, dan pasien mengalami masalah dalam melakukan kegiatan sehari-hari 21, Nyeri yang dirasakan bertambah parah pada malam hari dan terlokalisasi pada area deltoid. Terdapat keterbatasan yang sama pada semua gerakan glenohumeral, khususnya pada gerakan exorotasi, endorotasi, dan abduksi.

    Pada pergerakan pasif, terasa adanya pembatasan mekanik dari pergerakan sendi Nyeri yang timbul adalah nyeri tumpul atau aching. Hal ini dapat diperparah dengan adanya usaha untuk menggerakkan bahu. Nyeri biasanya terletak di area bahu bagian luar dan kadang-kadang di lengan atas.

    Suatu tanda khas dari kelainan ini adalah pembatasan pergerakan atau adanya kekakuan pada bahu. Pasien yang mengalami gangguan ini tidak dapat menggerakkan bahunya secara normal. Pergerakan juga dibatasi ketika seseorang mencoba menggerakan bahu pasien gerak pasif. Nyeri dan kaku di sekitar bahu tanpa riwayat cedera.

    Nyeri konstan yang mengganggu yang bertambah parah pada waktu malam, hanya sedikit berespon terhadap obat NSAID. Nyeri mulai mereda namun kaku menetap. Nyeri hanya muncul pada pergerakan yang ekstrim. Pergerakan glenohumeral sangat terbatas, dengan ketidakmampuan melakukan exorotasi bahu. Mengikuti fase adhesive dengan perkembangan spontan pemulihan jangkauan pergerakan.

    Saat memeriksa sendi, sangat penting untuk melakukan aksioma dari Alan Apley, suatu istilah yang terkenal di bidang Orthopedi: Pada inspeksi, lengan ditahan di samping pada posisi adduksi dan endorotasi.

    Atrofi ringan dari deltoid dan supraspinatus mungkin nampak. Pada palpasi, terdapat difusi yang lembek dari glenohumeral joint yang meluas ke area trapezius interscapula. Mengkonfirmasi ketidakmampuan exorotasi dengan gerakan aktif dan pasif sangatlah penting. Sebagai contoh, bila exorotasi dapat dilakukan dengan bantuan dokter maka kita harus mempertimbangkan diagnosis robekan pada rotator cuff. D, ruptur ke bursa subacromial dan ekstensi dari proses inflamatori sebagai osteitis pada caput humerus dan tuberositas mayor.

    From Noble J [ed]: Primary care medicine, ed 2, St Louis, , Mosby. Untuk beberapa alasan, sendi bahu menjadi kaku dan mengalami parut. Normalnya, posisi sendi bahu menyebabkan sendi ini dapat melakukan pergerakan yang jauh lebih kompleks dari sendi manapun. Bahu pasien membentuk pita dan jaringan parut yang disebut adhesi.

    Proses penyakit ini biasanya mempengaruhi capsula sendi anterosuperior, rotator interval, dan ligament coracohumeral. Arthroskopi menunjukkan suatu sendi kecil yang kehilangan lipatan axillar dan capsula anterior yang ketat dengan sinovitis ringan 45, Struktur yang mengalami kontraksi -ligament coracohumeral dan rotator interval- diekspose.

    Retraktor yang halus diletakkan di bawah lesi tanda panah dan ligament coracohumeral yang berkontraksi serta rotator interval dipotong secara tumpul, dengan posisi lengan exorotasi dan menjaga agar caput longum dari biceps brachii tidak terpotong C , tendon supraspinatus A , atau tendon subscapularis B. Secara umum terdapat pertentangan apakah proses patologi yang terjadi adalah suatu kondisi inflamasi, suatu proses fibrosing, ataukah suatu proses algoneurodistrofi.

    Neer et al menemukan bahwa ligament Coracohumeral mengalami kontraksi dan Ozaki et al menyatakan bahwa pelepasan ligament ini bersifat kuratif. Bukti menunjukkan suatu inflamasi synovial yang disusul dengan fibrosis capsular. Suatu matriks padat dari kolagen tipe I dan tipe III digantikan oleh fibroblast dan miofibroblas pada capsula sendi. Kemudian diikuti dengan kontraksi jaringan.

    Sitokin dan growth factors berperan dalam inisiasi dan terminasi dari proses perbaikan pada jaringan musculoskeletal melalui pengaturan fibroblast dan proses pembentukan kembali dikontrol oleh matriks metalloprotein dan inhibitornya.

    Pasien mengeluhkan adanya nyeri pada pergerakan aktif dan pasif. Rasa nyeri digambarkan sebagai rasa sakit saat istirahat dan bertambah parah saat bergerak, dengan gejala yang muncul kurang dari 3 bulan. Pasien menyatakan adanya rasa sakit pada malam hari dan saat beristirahat. Terdapat penurunan kemampuan menggerakkan bahu yang progresif dengan pembatasan pada gerakan fleksi ke depan, abduksi, endorotasi, dan exorotasi. Pada pemeriksaan dengan anestesi atau injeksi intraarticular dengan anestesi lokal terdapat perbaikan kemampuan bergerak yang signifikan.

    Pemeriksaan arthroskopi menemukan suatu synovitis glenohumeral dengan hipervascular yang difus, sering ditemukan pada capsula anterosuperior gambar Pada pemeriksaan PA ditemukan sedikit infiltrasi sel inflamasi, hipertrofi, synovitis hipervascular, dan jaringan capsula yang normal gambar Gejala nampak dalam bulan dengan nyeri kronik dan kehilangan kemampuan gerakan bahu yang progresif.

    Nyeri saat istirahat dan pada malam hari masih terdapat, dan gangguan tidur yang signifikan tetap eksis. Terdapat pembatasan signifikan terhadap gerakan fleksi ke depan, abduksi, endorotasi, dan exorotasi. Pemeriksaan setelah injeksi intraarticular dengan lokal anestesi atau blok scalene menunjukkan hilangnya rasa nyeri dengan perbaikan sebagian gerakan bahu.

    Kehilangan pergerakan bahu pada fase 2 menunjukkan hilangnya volume capsular dan suatu respons terhadap synovitis yang menyakitkan. Pemeriksaan dengan arthroskopi menunjukkan suatu synovitis bertangkai, difus, dan suatu capsula ketat dengan rasa kenyal dan tebal saat arthroskopi dimasukkan gambar Terdapat synovitis yang hipertrofi, hipervascular dengan perivascular dan pembentukan jaringan parut subsynovial dan fibroplasia capsular gambar Tidak terdapat infiltrat inflamasi pada fase 2.

    Pasien mengalami nyeri yang minimal kecuali pada akhir pergerakan bahu namun terdapat kekakuan bahu yang nyata. Nampak penurunan kemampuan gerak dengan suatu kekakuan pada capsular. Gejala nampak dalam bulan. Pemeriksaan arthroskopi menunjukkan sisa-sisa fibrotik synovium yang tidak hipervascular. Pada biopsi capsular nampak jaringan kolagen yang menebal, hiperselular dan suatu lapisan synovial tipis tanpa hipertrofi dan hipervascular yang signifikan Pada fase ini terdapat nyeri yang minimal dan perkembangan progresif dari cakupan pergerakan bahu karena pembentukan kembali capsula.

    Pemeriksaan fisik harus meliputi evaluasi dari tulang cervical, batang tubuh, dan kedua bahu. Nyeri saat istirahat dan pada malam hari merupakan hal yang biasa pada stadium awal ini. Pergerakan glenohumeral harus diukur saat menyeimbangkan scapula. Hal ini penting untuk menilai ROM glenohumeral dibandingkan pergerakan scapulothoracic. Exorotasi, abduksi, dan endorotasi paling dipengaruhi. Pergerakan aktif harus dinilai saat pasien berdiri. Pergerakan glenohumeral pasif dinilai pada posisi supine dan pergerakan scapulothoracic dibatasi dengan menekan acromion secara manual.

    Pemeriksan radiologi harus dilakukan termasuk foto anteroposterior pada posisi endorotasi, exorotasi, axillar, dan outlet untuk mengidentifikasi penyebab lain dari kekakuan sendi seperti arthritis glenohumeral, tendonitis kalsifikasi, atau penyakit rotator cuff. Adhesive capsulitis harus dibedakan dari penyakit lainnya yang juga menunjukkan gejala kekakuan dan nyeri pada sendi. Hal ini penting karena tindakan pengobatan untuk masing-masing penyakit berbeda-beda.

    Nyeri dipicu oleh elevasi lengan melewati bahu atau pada gerakan yang bertumpu pada bahu. Nyeri dapat menyebabkan pasien bangun dari tidurnya. Keluhan lainnya adalah kekakuan, snapping , atau kelemahan bahu. Deposit calcific nampak pada X-ray sebagai suatu gumpalan yang mencolok atau berupa area berawan cloudy area. Deposit nampak seperti awan pada proses reabsorpsi, dan pada keadaan ini timbul rasa nyeri.

    Deposit ini adalah kristalin pada fase istirahat dan nampak seperti pasta gigi pada fase reabsorpsi. Cara konservatif ini masih kontrovesial karena hanya efektif pada sebagian pasien, namun terdapat laporan bahwa nyeri dapat dikurangi dengan restriksi asupan kalsium. Restriksi diet ini berlaku untuk semua produk susu, kacang-kacangan yang memiliki kadar kalsium tinggi, produk fortifikasi kalsium, dan sayuran yang mengandung banyak kalsium.

    Bila setelah tiga bulan tidak terdapat perubahan, maka modalitas tatalaksana lainnya perlu dilakukan. Level magnesium yang rendah dapat menyebabkan deposisi kalsium pada jaringan lunak. Sehingga suplementasi magnesium diperlukan untuk mencegah pembentukan kalsifikasi. ECSW menggunakan gelombang suara yang difokuskan pada area deposit.

    Mekanisme kerja dari terapi ini belum diketahui. Elektroanalgesia, terapi es, dan pemanasan dapat mengurangi gejala.

    Future ui development tutorials

    obat golongan kortikosteroid topikal

    obat golongan kortikosteroid topikal

    obat golongan kortikosteroid topikal